Begitu membekas ingatan Roald Dahl akan guru, senior, dan kepala sekolah yang berlaku kejam kepadanya. Hal ini membuat ia meragukan Tuhan dan agama. Saat ia dewasa dan menulis, di beberapa tulisannya dapat kita temui tokoh guru-guru yang kejam, keras, kaku, dan terlampau disiplin.
Pada masa kini pun beberapa sekolah menjadi biang stres bagi beberapa anak dan remaja. Sanksi, hukuman, dan peraturan yang diberlakukan di sekolah membuat mereka tersiksa. Dalam hal ini, Paulus berbeda. Dalam suratnya kepada Timotius, muridnya, ia ingin agar orang mencontoh cara hidupnya sebagai pengikut Kristus: "Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1 Timotius 1:16).
Manusia membutuhkan keteladanan, kasih, dan perhatian. Itulah yang tidak didapatkan oleh Roald Dahl kecil. Murid-murid lebih mudah melupakan apa yang gurunya ajarkan di dalam kelas -- materi, teori, atau konsep. Cambukan, amukan, atau hukuman akan membekas lebih lama. Begitu pula pujian, hadiah kecil, dan saat-saat kebersamaan yang menyenangkan. Nah, sebagai orang dewasa, Anda lebih sering menuding atau merangkul? Atau, Anda lebih sering memberi hadiah atau hukuman? -- Sidik Nugroho
"Mengajar memerlukan pengetahuan. Mendidik memerlukan sikap terpuji. Tiap anak perlu keduanya."