January 23, 2014

Semangat dan Fasilitas

Lomba futsal digelar di sekolah saya beberapa tahun lalu. Pesertanya cukup banyak: 26 tim. Tim-tim itu dibagi menjadi 3 kategori sesuai usia peserta -- tingkat TK 1 kategori, tingkat SD 2 kategori. Walaupun tak suka sepakbola, saya menikmati pertandingan demi pertandingan yang berlangsung.

Hal yang amat mengesankan bagi saya di pertandingan ini adalah kemenangan yang diraih oleh SD Negeri Punggul 2 di salah satu kategori. Mereka adalah tim yang amat tangguh bagi saya. Sebabnya, mereka tak punya lapangan sendiri, namun bisa jadi juara 1! Padahal, lawan-lawan mereka cukup berat, beberapa di antaranya punya fasilitas lengkap olahraga di sekolahnya masing-masing.

Ketika mereka meraih piala, sorak-sorai membahana! Walaupun bukan anak murid saya, saya pun turut menyoraki mereka. Bangga rasanya melihat anak-anak yang sederhana ini meraih kemenangan yang gilang-gemilang.

Pelatih mereka bercerita bahwa untuk latihan, kadang mereka harus menyewa lapangan. Yang terus-menerus dipompa adalah semangat anak-anak itu. Pada akhirnya, semangat itulah -- bukan fasilitas -- yang menjadi kunci utama kemenangan mereka.

Kini, mari kita melihat diri kita masing-masing: apakah kita menyia-nyiakan fasilitas yang sudah kita miliki untuk menunjang hidup kita? Atau, justru kita kurang bersemangat karena memiliki fasilitas yang tampaknya serba kurang untuk mewujudkan niat kita? Fasilitas, bagi beberapa orang adalah segalanya. Itu keliru. Mari kita buat segalanya lebih baik! -- Sidik Nugroho

"Tragedi kehidupan adalah sesuatu yang mati di dalam diri seseorang pada saat dia hidup." 
~ Albert Einstein ~

January 22, 2014

Setia Menjawab Doa

"Hampir tujuh puluh tahun lamanya setiap kekurangan kami selalu Tuhan cukupkan. Jumlah anak-anak di Panti Asuhan ini meningkat terus dan hingga kini mencapai 9500 orang. Meskipun demikian, belum pernah sekalipun mereka tidak mendapatkan makanan," kata George Muller, pria yang terkenal sebagai bapak bagi para yatim-piatu kepada Charles R. Parsons beberapa tahun sebelum ia meninggal.

Muller adalah pendoa sejati. Ia selalu membaca Alkitab lalu berdoa di pagi hari sebelum melakukan segala aktivitasnya. Selain pendoa, ia adalah pencatat yang tekun. Selama melayani sebagai bapak bagi anak-anak asuhnya, di dalam buku catatannya pernah dihitung berapa kali Tuhan menjawab doa-doanya. Ternyata, lebih dari 25.000 kali!

Puluhan ribu jawaban doa tersebut adalah permintaan-permintan Muller yang spesifik atas kebutuhan yang mendesak untuk segera dipenuhi: peralatan, makanan, atau pakaian yang ia perlukan untuk anak-anak asuhnya. Semuanya Tuhan jawab dengan cara-cara yang aneh, kadang tidak masuk akal.

Selama ini, jikalau kita tidak menerima jawaban doa, kita perlu bertanya terhadap diri sendiri: apakah sesuatu yang kuminta benar-benar sesuatu yang kubutuhkan, atau sekadar keinginan untuk memuaskan nafsu duniawi, seperti kemewahan atau kebanggaan diri yang tidak perlu? Belajarlah dari George Muller, bahwa bila kita meminta-Nya untuk memenuhi kebutuhan kita, maka Ia akan setia menjawab doa kita, hingga puluhan ribu kali. -- Sidik Nugroho

January 21, 2014

Ditolak Koran

Sejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu "mendekati" mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Saya sendiri mengalami puluhan kali penolakan -- saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Ditolak. Orang tak yakin akan apa yang kita yakini luar biasa.

Namun, baiklah kita tak menyerah. Jikalau apa yang kita perjuangkan selama ini benar-benar kita yakini sebagai sesuatu yang hebat, ingatlah ada Tuhan yang melihat jerih lelah kita, dan ada pula waktu yang menjadi penguji setia bagi setiap niat dalam perjuangan kita. -- Sidik Nugroho

"Harapkanlah hal-hal yang besar dari Allah; lakukanlah hal-hal yang besar bagi Allah."
~ William Carey ~

January 20, 2014

Kebobrokan yang Terselubung dalam Moralitas

Ketika Philip Yancey, penulis terkenal itu, masih kecil, ia mengenal seorang pria yang mengesankan. Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain di komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam -- sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan: "Ini yang akan kulakukan padamu." Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang bobrok.

Moralitas seperti ini adalah legalisme, lawan dari anugerah. Orang yang terjebak dalam legalisme tahu hukum, tahu yang baik dan buruk, selalu tampak adil dan bijaksana, namun menjadi pribadi yang kaku dan gagal untuk mengupayakan kehidupan yang berkenan pada Allah. Sebaliknya, orang yang hidup dalam anugerah mengakui ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaannya, tidak selalu tampak baik, namun selalu berusaha berkenan pada Allah dengan cara mengoreksi diri. -- Sidik Nugroho

"Homines sumus, non dei." (Kita manusia yang lemah, bukan dewa.)
~ Pepatah Latin ~

January 19, 2014

Bayi yang Diserahkan

Ini kisah tentang sebuah keluarga petani yang miskin, yang tinggal di Batu, Malang. Tanggal 2 April 2011, si ibu baru saja melahirkan anaknya yang ketujuh. Dan bayi perempuan itu, begitu ia dilahirkan, langsung diberikan kepada orang lain. Orang lain yang akan membesarkan anak itu adalah saudara dari rekan sekerja ibu saya di sekolahnya.

"Ibunya sama sekali tidak mau menyusui anak itu. Dia takut teringat pada wajah anaknya. Dia langsung menyerahkan anak itu untuk dibawa," kisah ibu saya. Ibu saya menyaksikan secara langsung bagaimana orang tua bayi itu melepas anaknya di sebuah rumah sakit di Batu.

Dari tujuh anak yang dilahirkan, tinggal empat yang kini ada dalam keluarga itu. Dua anak lain, yang lahir sebelum bayi itu, telah meninggal. Keluarga ini menanggung sebuah beban hidup yang berat. Orang tua -- terutama sang ibu -- sangatlah tegar. Tentulah tak mudah mengandung seorang bakal bayi sembilan bulan, lalu menyerahkannya kepada orang lain setelah si bayi lahir. Apalagi anak itu bukan hasil perselingkuhan, atau hubungan gelap apa pun.

Inilah kenyataan hidup yang kadang begitu miris. Namun, tentunya kita bersyukur mendapati sebuah kenyataan lain bahwa bayi itu dibesarkan oleh seseorang yang berjanji akan membesarkan anak itu, ketika di masa kini ada bayi lain yang dibuang atau digugurkan oleh orang tuanya. Dalam kemiskinannya, keluarga ini masih menghargai anugerah kehidupan yang Tuhan berikan dalam napas hidup si bayi. -- Sidik Nugroho

"Hati Anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu."
~ Hazrat Inayat Khan ~

January 18, 2014

Guru Sejarah Panutan

Waktu SMA, saya mengambil jurusan IPA saat naik kelas 3. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh harapan orangtua saya yang ingin agar saya menjadi dokter. Namun, dalam kegiatan pembelajaran di kelas, saya selalu bosan. Satu-satunya guru yang membuat saya merasa bisa menerima pelajaran adalah guru Sejarah. Apa sebabnya? Sederhana saja: dia bercerita dengan penuh semangat.

Bila guru Sejarah saya bercerita, hampir semua siswa terdiam, mendengarkan ceritanya. Seingat saya, dia jarang memberi tugas yang berat, mengingat pelajaran Sejarah hanya dijadwal satu jam pelajaran dalam seminggu. Guru ini jarang duduk, suka berdiri, menggunakan ekspresi wajahnya, kedua tangannya, dan berbagai gerak tubuh lainnya untuk mendukung cerita-cerita sejarahnya.

"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi," demikian yang tertulis dalam Pengkhotbah 9:10. Kitab Pengkhotbah cukup banyak menuliskan kata-kata "kesia-siaan" dan "usaha menjaring angin"; pekerjaan, ucapan syukur, dan kegembiraan adalah hal-hal yang  membuat kehidupan seseorang jadi berharga.

Kualitas suatu pekerjaan dilihat dari kesungguhan hati yang ada pada seorang pekerja. Kualitas pekerjaan bukan dilihat dari seberapa bagus pakaian dan dasi seseorang, seberapa mahal kursi yang diduduki seseorang saat bekerja, atau seberapa tinggi dan mewah bangunan yang menjadi tempat kerja seseorang. Kualitas pekerjaan diukur dari seberapa besar semangat yang ada dalam hati seseorang. Semangat yang besar melahirkan totalitas, dan totalitas pasti melahirkan hasil yang baik di kemudian hari. -- Sidik Nugroho

"Semangat yang besar adalah awal yang baik untuk menekuni, menggeluti, dan mempelajari sesuatu."

January 17, 2014

Pentingnya Keteladanan

Ketika membaca buku Roald Dahl yang berjudul Boy: Kisah Masa Kecil yang berisi tentang berbagai peristiwa saat ia masih kecil dan remaja, saya terenyak pada sebuah bab. Kepala sekolah Roald Dahl diangkat menjadi uskup tertinggi di Inggris, padahal dulunya dia sangat suka memukuli anak-anak. Di bab yang sama, Roald Dahl menulis: "Saat itu… aku duduk… mendengarkannya berkhotbah tentang Gembala Tuhan, dan tentang Kasih dan Pengampunan dan sebagainya, lalu benak mudaku menjadi amat bingung."

Begitu membekas ingatan Roald Dahl akan guru, senior, dan kepala sekolah yang berlaku kejam kepadanya. Hal ini membuat ia meragukan Tuhan dan agama. Saat ia dewasa dan menulis, di beberapa tulisannya dapat kita temui tokoh guru-guru yang kejam, keras, kaku, dan terlampau disiplin.

Pada masa kini pun beberapa sekolah menjadi biang stres bagi beberapa anak dan remaja. Sanksi, hukuman, dan peraturan yang diberlakukan di sekolah membuat mereka tersiksa. Dalam hal ini, Paulus berbeda. Dalam suratnya kepada Timotius, muridnya, ia ingin agar orang mencontoh cara hidupnya sebagai pengikut Kristus: "Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1 Timotius 1:16).

Manusia membutuhkan keteladanan, kasih, dan perhatian. Itulah yang tidak didapatkan oleh Roald Dahl kecil. Murid-murid lebih mudah melupakan apa yang gurunya ajarkan di dalam kelas -- materi, teori, atau konsep. Cambukan, amukan, atau hukuman akan membekas lebih lama. Begitu pula pujian, hadiah kecil, dan saat-saat kebersamaan yang menyenangkan. Nah, sebagai orang dewasa, Anda lebih sering menuding atau merangkul? Atau, Anda lebih sering memberi hadiah atau hukuman? -- Sidik Nugroho

"Mengajar memerlukan pengetahuan. Mendidik memerlukan sikap terpuji. Tiap anak perlu keduanya."

January 16, 2014

Pernikahan: Kunci Kebahagiaan?

Tiap kali bertemu dengan saya, beberapa teman -- terutama teman-teman lama -- selalu menanyakan, "Kapan menikah? Sudah punya calon atau belum?" Saya tidak bisa menyalahkan pertanyaan ini. Hal ini sudah menjadi anggapan pada umumnya di masyarakat: bila kita sudah bekerja, maka kita semestinya menikah. Anggapan itu bisa digeser bila seseorang memberikan jawaban bahwa ia seorang biarawan atau biarawati -- orang-orang akan segera memakluminya.

Begitulah, memiliki seorang istri atau suami, juga sebuah keluarga, memang kerap dijadikan tolok ukur kebahagiaan. Tidak salah. Namun, itu tidak selalu benar. Hal itu akan salah bila semua orang yang belum atau tidak menikah -- dan belum atau tidak berkeluarga -- dicap sebagai orang-orang yang tidak berbahagia. Padahal, orang-orang yang tidak menikah bisa melakukan sesuatu yang lebih besar bagi masyarakat daripada orang-orang yang sudah menikah -- walau ada juga orang yang tidak mau menikah karena enggan berkomitmen dan lebih suka kumpul kebo.

Alfred Nobel, Isaac Newton, Romo Mangunwijaya, Bunda Teresa, Paulus, bahkan Kristus, tidak menikah. Dan, walaupun tidak menikah, hidup mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi orang lain dan masyarakat. Adakah yang berani menyatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan kondisi membujang seumur hidup seperti itu? Malah, saya menduga, bila mereka menikah, mungkin pencapaian dan pengaruh mereka bagi dunia tidak sebesar yang sudah mereka wariskan hingga kini karena mereka akan lebih sibuk mengurusi rumah tangga.

Nah, bila Anda belum menikah, pertanyaannya: apakah Anda bahagia? -- Sidik Nugroho

"Menikah dan tidak menikah sama baiknya selama seseorang dapat hidup berbahagia dan bermanfaat bagi sesamanya."

January 15, 2014

Gelandangan yang Visioner

Republik Indonesia dibangun oleh bapak-bapak bangsa yang visioner. Salah satunya, yang tak begitu tersohor adalah Tan Malaka. Ia seorang penyendiri, suka menulis. Salah satu buah pikirnya yang terkenal, Madilog (Materialisme Dialektika Logika), ditulis di Rawajati, di sebuah gubuk bambu berukuran 15 meter persegi. Tan menulisnya dari pukul 6 pagi sampai 12 siang, dari tanggal 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Ia sering mencari rujukan di Museum Nasional yang ditempuh 4 jam kalau berjalan kaki.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, karya-karya Tan tentang Indonesia dipublikasikan dengan luas. Sebuah karyanya, Aksi Massa, menjadi karya yang menginspirasi Soekarno. Karya itu juga menginspirasi W.R. Supratman saat menulis lagu "Indonesia Raya". Hidup Tan mirip gelandangan. Ia sering diburu sehingga harus berpindah-pindah tempat dan sering menyamar.

Saat ini, zaman ketika reality show menjadi tayangan kesukaan banyak orang, ajang mencari bakat, mencari jodoh, hingga memasak -- semua ditayangkan. Rahasia kehidupan pribadi diumbar dengan cara-cara yang kadang kelewatan dalam tayangan gosip atau jejaring sosial. Ketika Musa menghadapi bangsa Israel yang payah, Ia naik ke atas gunung, menyendiri. Ia menghadap Allah, memohon hikmat-Nya untuk jutaan orang yang terhampar di padang gurun.

Dalam kehidupan yang ingar-bingar seperti sekarang ini, setiap tindakan kecil pun ingin diketahui oleh orang lain. Kesendirian -- benar-benar sendiri -- adalah hal yang makin asing saat ini. Orang-orang mungkin lupa, atau tidak tahu, tidak sedikit pencapaian hebat manusia yang diraih saat ia sedang menyendiri. -- Sidik Nugroho

"Kalau Anda menganggur jangan menyendiri, kalau Anda menyendiri jangan menganggur." 
~ Samuel Johnson ~

January 14, 2014

Rezeki Waktu Subuh

Suatu ketika saya naik becak dari stasiun Blimbing, Malang, ke rumah saya. Jaraknya sekitar 3 sampai 4 kilometer. Tukang becak agak santai mengayuh becak, dan kami pun berbincang-bincang tentang diri kami masing-masing. Ia berasal dari Pasuruan, sekarang dia tinggal di rumah kos bersama istri dan anaknya yang masih kecil di kecamatan Pakis, dekat taman rekreasi Wendit di Malang. Ia bercerita kalau dulu bekerja di pabrik susu sebagai karyawan outsourcing. Setelah kontrak pekerjaannya tak diperpanjang, ia mencoba melamar ke beberapa pabrik lain. Namun, tak ada yang mau mempekerjakannya.

"Rezeki saya yang paling utama ya dari pasar Blimbing ini, Mas," katanya. "Tiap subuh selalu ada yang naik becak untuk berjualan di pasar. Kalau sudah siang, atau malam, agak sepi."

Pada umumnya manusia bekerja siang hari, saat hari masih terang. Namun, bagi beberapa orang, jam-jam kehidupan berlaku terbalik: mereka bekerja waktu malam dan beristirahat waktu siang. Seperti tukang becak ini, dan banyak orang lainnya di pasar-pasar tradisional. Semangat hidup dan kerajinan mereka bukan hal yang mudah untuk ditiru. Apalagi di Malang, hawa subuh lumayan dingin. Lebih banyak orang suka berlindung di balik selimut bila masih subuh dan melanjutkan mimpi yang indah.

Mungkin, selama ini Anda mendapatkan uang dengan cara yang mudah. Tak perlu ngoyo, kehidupan Anda baik-baik saja. Tapi, bagi beberapa orang yang lainnya, rezeki harus didapatkan dengan memeras keringat dan membanting tulang. Nah, sudahkah kita bersyukur untuk setiap rezeki dan kebaikan yang ada selama ini? -- Sidik Nugroho 

"Ada orang yang bekerja keras tapi bergaya hidup sederhana, ada orang yang tak suka bekerja tapi bergaya hidup mewah."