February 9, 2014

Bukan Hanya Soal Pesona

Saya rasa banyak pria akan terpesona dengan gadis bersuara merdu, lincah, cantik, periang dan lucu. Ia adalah seorang aktris teater yang di dalam setiap pertunjukannya tampil mempesona dan membuat para penontonnya tertawa sekaligus gemas. Itulah yang ditampilkan dalam film Funny Girl yang dibintangi Barbra Streisand dan Omar Sharif. Barbra menunjukkan segenap kemampuannya yang sangat berkemilau dalam perannya sebagai Fanny Brice.

Nick Arnstein (Omar Sharif) kemudian jatuh hati padanya. Di pertemuan mereka yang pertama Nick pun tampak tak kalah mempesona. Ia tampil sebagai gentleman yang tampan. Ia sangat sopan dalam bertutur, dan menampilkan bahasa tubuh yang memikat. Segenap upayanya untuk menarik hati Fanny berhasil.

Namun, badai tiba juga. Nick, yang tak punya pekerjaan apa pun kecuali berjudi, suatu ketika mengalami krisis keuangan. Karena ia tipe pria yang selalu menjaga gengsi, ia tak mau menerima bantuan Fanny untuk terlibat dalam sebuah usaha yang dimodali oleh Fanny. Malah, Nick justru terlibat dalam penggelapan uang dan dipenjara 18 bulan.

Nick meminta Fanny untuk menceraikannya, tapi Fanny tak melakukannya. Keputusan inilah yang membuat saya merenung lagi tentang makna cinta yang sejati: komitmen. Apa pun pesona dari pasangan kita yang membuat kita tertarik di masa lalu, suatu saat dapat kita abaikan. Rasanya itu tak penting lagi. Dan cinta bukan hanya soal pesona, namun komitmen. Pada akhirnya, komitmenlah yang membuat sepasang kekasih mampu untuk tetap saling mencintai. -- Sidik Nugroho

"Seorang suami yang bijaksana dan seorang istri yang sabar berarti sebuah rumah yang nyaman dan kehidupan yang bahagia." 
~ Peribahasa Belanda ~

February 8, 2014

Berdamai dengan Diri Sendiri

American Film Institute menobatkan Raging Bull sebagai film olahraga terbaik sepanjang masa. Kisah hidup Jake LaMotta (Robert De Niro) disajikan dengan begitu dramatis di tangan sutradara kampiun Martin Scorsese. Kehidupan Jake La Motta yang penuh liku terutama disebabkan oleh sifatnya yang temperamental. Jake sangat posesif, pencemburu, dan mudah naik darah. Di balik karir tinjunya yang penuh prestasi, kehidupan rumah tangganya berantakan.

Jake sukses mendapatkan semua yang diinginkannya: rumah mewah, istri cantik, dan anak-anak. Namun, Jake tidak pernah sukses melawan amarah yang terus bergelora dalam dirinya sendiri. Dialah Raging Bull, banteng ketaton, yang mengamuk tiada henti.

Film Raging Bull menyadarkan saya, manusia yang bahagia adalah mereka yang bisa mengendalikan suasana hatinya. Yang menjadi masalahnya: suasana hati manusia tak jarang dipengaruhi dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Ada manusia yang ketika mengalami hal buruk, suasana hatinya pun menjadi buruk juga. Ada juga yang mengalami hal buruk, tapi suasana hatinya tetap damai. Yang malang adalah mereka yang mudah berang: dalam kehidupan yang baik-baik saja pun, mereka selalu punya alasan untuk marah.

Gandhi pernah menyatakan, "Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengijinkannya." Jalannya roda kehidupan kita sangat ditentukan oleh suasana hati. Bila suasana hati kita sering buruk, mungkin sudah tiba waktunya untuk berdamai dengan diri sendiri. -- Sidik Nugroho

"Langkah pertama untuk berdamai dengan diri sendiri adalah membuat pengakuan, bahwa kita manusia tak berdaya yang perlu pertolongan Tuhan."

February 7, 2014

Sendirian Hingga Kapan?

Into the Wild adalah sebuah film yang diangkat dari buku nonfiksi karya Jon Krakauer, mengisahkan pergulatan batin seorang pemuda bernama Christopher McCandless (Emile Hirsch) setelah lulus kuliah. Chris adalah seorang yang keranjingan membaca. Ia hidup "bersama" Leo Tolstoy, Jack London, Henry David Thoreau, dan lainnya. Karya-karya mereka menghantui benaknya, menjadi dasar idealismenya.

Setelah kuliah, uang tabungan yang ia miliki hanya diambilnya beberapa dolar. Bagian yang lebih besar, 24.000 dolar, ia sumbangkan untuk anak yatim piatu. Dengan beberapa dolar yang dimilikinya, ia mengambil sebuah keputusan radikal: mengembara hingga ke kutub, ke Alaska. Keputusan ini tak diberitahukannya kepada siapa pun, bahkan kepada adik perempuannya yang sangat dekat dengannya.

Nah, sampai berapa lama Chris bertahan hidup dengan alam -- tanpa keluarga, sahabat, dan orang-orang dekat yang bisa diajak berbagi? Sampai berapa lama ia mampu melangkah sendirian? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk dalam diri saya ketika menyaksikan film ini.

Saat hidup dalam sebuah lingkungan, ada yang orang bertahan dengan idealismenya dan tersingkir; ada juga yang bertahan dalam idealismenya lalu mempengaruhi orang lain. Namun, yang lebih banyak terjadi: banyak orang yang idealismenya pupus, kalah dengan pandangan-pandangan umum yang dipegang dalam suatu masyarakat. Nah, bagi yang ingin terus bertahan dengan idealismenya, ia mempunyai sebuah beban besar: sampai sejauh ia bisa menerima dan membiarkan orang yang tidak sejalan dengannya hidup bersama? -- Sidik Nugroho

"Hidup dengan idealisme itu baik sekaligus mencelakakan. Seni menjadi bijaksana di dalamnya adalah sampai sejauh mana orang bisa bertoleransi."

February 6, 2014

Mengubah Pola Hidup

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan -- bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja terdengar fantastis.

"Cara untuk menjaga kesehatanmu adalah dengan memakan makanan yang tidak ingin kaumakan, meminum minuman yang tidak kausukai, dan melakukan aktivitas yang jarang kaulakukan," kata Mark Twain. Kata-kata itu sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern.

Masyarakat, yang pada masa kini kian konsumtif -- karena tergerus arus modernisasi di perkotaan -- umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas membugarkan. Masyarakat di perkotaan sering melupakan kesehatan, hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini. Usia panjang yang dilalui dalam kesehatan adalah idaman banyak orang. Untuk mendapatkannya, hanya satu cara yang harus diubah: pola hidup kita. -- Sidik Nugroho

"Cara Anda berpikir, kebiasaan Anda, makanan Anda, dapat mempengaruhi hidupmu 30 hingga 50 tahun ke depan." (Deepak Chopra)

February 5, 2014

Pekerjaan yang Kudus

Suatu ketika, saat mengajar murid-muridnya tentang pekerjaan, seorang guru terkejut sekaligus geli ketika mendengar seorang anak muridnya yang bercita-cita menjadi bos atau pejabat. Ada celetukan: "Jadi pejabat? Wah, tukang korupsi tuh!" Dari pembicaraan di dalam kelas, pekerjaan yang dinilai baik oleh para siswa adalah dokter, guru, tentara, atau biarawan. Televisi dan media-media lain telah membuat citra seorang pejabat menjadi begitu buruk di mata anak-anak.

Tentang hal ini, Tozer menulis dengan sangat baik dalam bukunya yang terkenal, Mengejar Allah: "Bukan apa yang dilakukan seorang manusia yang menentukan apakah pekerjaannya kudus... melainkan mengapa ia melakukannya. Motif adalah segala-galanya. Biarlah seorang manusia menguduskan Tuhan Allah dalam hatinya dan setelah itu ia bisa melakukan perbuatan yang tidak biasa."

Jadi, sebuah pekerjaan yang kudus, pada akhirnya bukan diukur dari apa pekerjaan itu dan seberapa banyak uang yang dihasilkan dari situ. Pekerjaan yang kudus berbicara tentang hati yang gembira saat bekerja -- juga integritas, damai sejahtera, dedikasi, dan totalitas hidup seseorang di dalamnya.

Bila Anda gembira, Anda akan rajin bekerja, tapi tidak lupa juga untuk bersyukur. Anda hidup penuh visi, target, dan rencana -- tapi tidak melupakan firman Tuhan yang menjaga hati dan menguji niat Anda dalam seluruh hal yang Anda rancang dan kerjakan. Apa pun pekerjaan itu, biarlah melaluinya Anda bisa mempersembahkan pengabdian yang terbaik kepada Allah. -- Sidik Nugroho

"Pekerjaan menjadi penting karena nilai-nilai kehidupan yang diperjuangkan di dalamnya, bukan semata-mata uang."

February 4, 2014

Memperjuangkan Kebersamaan

Saat bapak saya berulang tahun ke-63, beliau bercerita dan menyampaikan wejangan tentang beberapa hal. Salah satunya adalah pentingnya kebersamaan dalam keluarga. Saat mendengar wejangan, saya teringat pada saat-saat dulu beliau bekerja. Lebih dari tigapuluh tahun bapak saya bekerja, dan beliau sering ditempatkan di kota lain saat dinas. Saat kami sekeluarga di Malang, misalnya, beliau dinas di Surabaya, Blitar, dan Probolinggo. Ketiga kota itu rata-rata ditempuh satu setengah hingga dua jam dari Malang menggunakan bis. Tiap pagi, sekitar jam enam, beliau sudah berangkat bekerja. Dan, hampir tiap sore bapak pulang ke rumah.

Pengorbanan bapak saya untuk memperjuangkan kebersamaan bersama keluarga tampaknya sederhana, tapi membutuhkan tekad yang besar. Memperjuangkan kebersamaan mungkin tak seheroik memperjuangkan kemerdekaan; tapi energi, kesabaran, dan biaya yang dibutuhkan tidaklah kecil.

Yesus menyadari hal ini sepenuhnya saat hidup bersama dengan murid-murid-Nya. Ia ditinggal tidur oleh murid-murid-Nya saat Ia meminta mereka berjaga-jaga. Murid-murid-Nya pernah meributkan siapa yang terbesar di antara mereka. Bahkan ada yang menjadi pengkhianat, menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Kebersamaan mungkin terdengar indah dalam puisi, namun begitu penuh gejolak dalam kehidupan sehari-hari. Sumber konflik lebih banyak disebabkan dari kebersamaan, bukan kesendirian. Namun, pada akhirnya, sebuah kebersamaan yang baik akan melahirkan kenangan yang baik. -- Sidik Nugroho

"Kebersamaan tak selalu membahagiakan, namun dapat membuat kita mengerti pemikiran orang lain, belajar mengampuni, dan bertoleransi." 

February 3, 2014

Jalan Sunyi Kejujuran

"Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan." (Mazmur 37:34)

Zaman sekarang, saat segala hal dalam kehidupan tampaknya menjanjikan kemudahan dengan berbagai fasilitas yang tersedia, beberapa orang malah makin malas menggunakan otak dan energinya. Di Indonesia, berbagai kasus plagiasi sudah beberapa kali terjadi: musik, cerpen, bahkan skripsi dan karya-karya tulis ilmiah. Baru-baru ini, beberapa orang yang akan menjadi guru besar di beberapa perguruan tinggi dinyatakan menjiplak karya tulis ilmiah yang sudah ada.

Plagiasi, tindakan mencuri karya orang lain, jikalau ditulusuri sebab-musababnya, diawali dari salah satu atau gabungan kedua keinginan ini: memiliki popularitas dan mendapat gelar tertentu. Kalau tidak ketahuan, betapa menyedihkannya popularitas yang dibangun dengan dusta, gelar yang diraih dari hasil mencuri. Nas yang kita baca pada hari ini merupakan kecemburuan sesaat Pemazmur pada orang-orang yang meraih kesuksesan dengan cara-cara yang curang. Namun, di bagian akhir Mazmur 37, kita pun melihat adanya perubahan hati. Sebuah komitmen muncul di sana: menjaga diri untuk selalu berjalan dalam kejujuran.

Saat Yesus dicobai di padang gurun, Iblis menawarkan semua kemegahan dan kenikmatan dunia. Namun Yesus menolaknya, memilih jalan hidup yang sunyi dari gegap-gempita. Yesus menempuh jalan sunyi kejujuran, setia dalam penderitaan, dan mati menebus dosa manusia hingga bersimbah darah di atas kayu salib. Jikalau Sang Penebus sudah memberi teladan demikian, bagaimanakah sikap dari umat tebusan-Nya? -- Sidik Nugroho

"Orang yang menyukai jalan pintas dalam kehidupannya kehilangan banyak kesempatan berharga untuk menyaksikan pertolongan Tuhan." 

February 2, 2014

Siapakah Orang Miskin Itu?

José Alberto Mujica Cordano adalah presiden Uruguay sejak 2010 yang terkenal dengan kehidupannya yang sederhana. Ia menyumbangkan 90 persen gajinya (yang jumlahnya hampir Rp 120 juta) untuk amal. Ia tidak tinggal di kediaman pesiden, tapi di rumah pertaniannya di luar ibu kota, hanya dijaga dua polisi dan seekor anjing. "Saya disebut presiden termiskin di dunia, tetapi saya tak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih," katanya.

Inilah sebuah gambaran yang mencengangkan tentang kehidupan seorang pemimpin. Saat ini, manakala banyak orang berlomba-lomba menjadi lebih kaya, lebih makmur, dan lebih memiliki banyak hal, ada seorang pemimpin yang meneladankan sebuah kehidupan sederhana bagi rakyatnya.

Begitu banyak orang yang terlalu berfokus pada apa yang bakal diraihnya, tapi tidak menikmati apa yang ada sekarang. Inilah orang-orang yang "miskin" -- tidak pernah puas, tidak pernah pernah mengucap syukur. Hampir tiap hari saya bertemu dengan orang yang tidak berbahagia dengan kehidupannya saat ini. Karena keseringan mengangankan kehidupan yang lebih baik, daya hidup pada masa kini seperti terkuras.

Dalam percakapan, selalu saja ada istilah-istilah bagi kehidupan yang lebih baik, seperti: "harapan yang terwujudkan", "penantian panjang yang berbuah manis", atau "impian yang menjadi kenyataan". Bila sudah demikian saya jadi teringat pada presiden lain, Jimmy Carter, yang suatu ketika, saat ditanyai wartawan yang bertanya kapankah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya menjawab: "Sekarang!" -- Sidik Nugroho

"Kekhawatiran takkan menghapus kesedihan hari esok, tapi merampas daya hidup hari ini." 
~ Corrie Ten Boom ~

February 1, 2014

Terlalu Mengasihani Diri

Dulu, saya pernah mengalami persoalan yang cukup berat sebagai seorang anak muda: PHK, alias Putus Hubungan Kasih, alias ditinggal pacar. Cukup lama waktu yang saya habiskan untuk memulihkan diri karena saat itulah saya merasakan membaurnya benci dan sayang. Ya, saya rasa anak muda umumnya akan mengaku dirinya ada dalam masalah besar ketika hal ini terjadi. Bahkan ada yang bunuh diri ketika mengalaminya.

Saya pernah mendengar cerita lain dari anak sekolah minggu saya kalau neneknya sulit menjemput kematiannya karena hatinya dipenuhi dendam pada seseorang. Ia selalu menggeram dengan marah seumur hidupnya ketika menyebut nama orang itu. Ia tak bisa mengampuni.

Masalah-masalah seperti mengampuni dan merelakan tak kunjung hilang karena kita tanggapi dengan cara mengasihani diri sendiri dengan kelewatan. Hal ini kontras dengan kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita setiap pagi. Kasih-Nya yang tak berkeputusan semestinya membuat kita bersyukur dan meninggalkan kesusahan, luka, dan dendam di hati kita.

Kita perlu sadar bahwa setiap orang punya kesusahannya sendiri-sendiri. Saat kita melintas di pasar atau sebuah kerumunan yang berisi orang-orang yang tidak mengenal kita, siapa yang peduli dengan persoalan yang kita hadapi? Atau, pernahkah kita juga peduli dengan masalah orang-orang yang tidak kita kenal dalam kerumunan itu?

Kita memang berharga di mata-Nya. Tapi keberhargaan itu tak lantas membuat kita mengasihani diri sendiri karena merasa terlalu berharga, sehingga saat mengalami penderitaan kita kerap merasa sebagai orang yang paling malang di muka bumi. -- Sidik Nugroho

"Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Kekhawatiran tak membuat hidup kita sehasta lebih panjang."

January 31, 2014

Kita Bukan Orang Lain

Novel karya Harper Lee, To Kill a Mockingbird, pemenang penghargaan sastra Pulitzer tahun 1961, adalah sebuah buku yang bagus tentang bagaimana kita diajarkan untuk memahami orang lain. Dengan mengangkat isu rasisme yang masih marak di Amerika pada tahun 1960-an, Harper Lee menunjukkan kepada para pembacanya untuk tidak memiliki prasangka yang buruk terhadap orang lain.

Scout dan Jem, dua orang anak Atticus, selalu memiliki prasangka yang tidak-tidak kepada Boo Radley, salah satu tetangga mereka. Boo sering dianggap manusia berbadan besar, garang, dan menakutkan. Rumah Boo bagi mereka berdua selalu menjadi misteri yang terkesan angker karena Boo tampaknya tak pernah keluar rumah.

Anggapan mereka tentang Boo berubah total ketika suatu malam Jem diserang oleh seseorang yang misterius setelah Atticus -- yang adalah seorang pengacara -- menjadi pembela di pengadilan untuk seorang kulit hitam yang ia yakini tak bersalah. Ajaib, yang menjadi penolong bagi Jem ternyata Boo Radley.

"Kau tidak pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya ... hingga kau menyusup balik ke kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya," demikian Atticus pernah berujar. Ujaran ini juga berlaku bagi kita dalam menilai orang lain. Kerap kita menyimpulkan seseorang seperti ini atau seperti itu hanya dari kesan ketika sekilas melihatnya atau sedikit hal yang kita dengar tentangnya. Saat ini, jikalau kita mudah berprasangka buruk, sadarilah bahwa kita bukan orang lain. -- Sidik Nugroho

"Jika Anda bertemu dengan seseorang yang kejam, sebenarnya Anda telah bertemu dengan seorang pengecut."
~ Anonim ~