January 2, 2014

Kembali kepada Pria Itu

Pria itu sedang menghadap para petugas penjara. Mereka menanyakan apakah hukumannya telah membuatnya sadar akan kejahatannya. Ia tidak segera menjawab "ya" atau "tidak". Ia malah berkata kurang lebih demikian: "Dulu aku hanyalah seorang anak muda yang tak punya banyak pertimbangan dan melakukan sebuah kesalahan besar. Andai aku dapat kembali kepada pria itu dan mengatakan agar dia tidak melakukannya. Namun aku tak bisa..."

Jawaban itu kemudian mendapatkan imbalan stempel bertuliskan "approved". Ya, pembebasan bersyaratnya disetujui!

Pria itu bernama Ellis "Red" Redding. Diperankan oleh aktor ternama Morgan Freeman, pria dalam film The Shawshank Redemption itu menyadarkan saya tentang pentingnya untuk menjadi bijaksana.

Red telah mendekam puluhan tahun di penjara. Penjara sebagai institusi yang menghadirkan suasana statis mampu menghasilkan perenungan yang dinyatakannya. Namun, walaupun tak terpenjara seperti Red, pernahkah Anda berandai-andai untuk kembali menjadi muda? Pernahkah Anda mengingat sebuah kesalahan yang teramat konyol dan terlampau memalukan, dan rasanya berharap itu tidak pernah terjadi?

Jika pernah, sadarilah anugerah Allah. Anugerah itu memampukan kita menyadari keadaan ini: kesalahan kita di masa lalu tak lantas membuat hidup kita jadi berantakan di masa kini. Dalam anugerah-Nya Ia memberi pengampunan kepada kita. Anugerah itu membebaskan. Anugerah Tuhan membuat kita percaya diri. -- Sidik Nugroho

"Tak ada perbuatan yang begitu baik untuk membuat Allah lebih mengasihi kita; tidak ada kesalahan yang begitu parah yang membuat Ia menutup pintu bagi kita."

January 1, 2014

Sekitar Dua Meter Persegi

Pakhom adalah seseorang yang gila harta. Ia menginginkan tanah yang luas dan ternak yang banyak. Ia suka mencari-cari daerah baru di mana ia bisa mendapatkan tanah yang luas. Suatu waktu ia menemukan sebuah tempat bernama Bashkir.

Ajaib, orang-orang Bashkir menyatakan bahwa Pakhom dapat memiliki tanah di sana semampu ia berkeliling dari pagi hingga sore. Bila ia mampu berlari bekeliling hingga 100 hektar, misalnya, dia akan mendapatkan tanah itu. Pakhom sangat gembira. Pada hari yang ditentukan, ia berkeliling cukup jauh sehingga tanah yang ia dapatkan luas sekali. Namun, sayang sekali, ia kelelahan dan akhirnya mati tepat pada saat ia mengakhiri kelilingannya.

Ini adalah sebuah ringkasan cerita Leo Tolstoy, salah satu pengarang Rusia yang terbesar. Kisah ini berjudul Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?. Setelah Pakhom mati, pelayannya menguburkan jasadnya. Untuk hal ini hanya diperlukan tanah seluas tiga elo saja. Mungkin, sekitar dua meter persegi.

Selama ini, apakah kerja keras di hidup kita hanya merupakan ambisi untuk mendapatkan berbagai kepemilikan yang lebih dan lebih banyak seperti Pakhom? Pernahkah kita berpikir bahwa budi baik, pengorbanan, kasih bagi sesama dan kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh berapa luas tanah dan kepemilikan lain yang kita miliki? Sama seperti Pakhom, kelak kita akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa-apa, hanya jasad dan sebidang tanah yang mungkin luasnya hanya sekitar dua meter persegi. -- Sidik Nugroho

"Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton."
~ Mark Twain ~