January 5, 2014

Tempat yang Tersembunyi

Seringkali kita melakukan suatu kebaikan agar disaksikan banyak orang di sekitar kita. Orang memuji kita karena kita dermawan atau baik hati. Namun, suatu ketika, Yesus berpesan agar ada tiga hal yang sebaiknya dilakukan di "tempat yang tersembunyi" saat berkhotbah di bukit: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Kita akan merenungi salah satunya: berdoa.

Tentu ada alasannya mengapa kita diminta untuk berdoa secara "rahasia".  Pertama, agar kehidupan doa kita berbeda dengan orang-orang munafik yang suka berdoa di tempat-tempat ramai supaya dilihat orang. Memang, ada saat-saat ketika kita berdoa secara berjemaah -- bersama-sama dengan saudara seiman. Namun, pertanyaannya: apakah kita hanya akan berdoa bila ada acara doa bersama?  Atau kita melakukan ibadah doa hanya untuk menyukakan manusia, misalnya pemimpin agama kita? Mari kita introspeksi diri kita dan mengambil komitmen baru di dalam kehidupan doa kita bahwa kita tidak berdoa untuk tujuan yang tidak benar.

Yang kedua: integritas. Tempat yang tersembunyi adalah sebuah tempat yang disukai oleh semua orang untuk bebas berbuat apa saja: dosa atau kebenaran. Jikalau Tuhan menemukan kita melakukan hal yang mulia di sana, yaitu berdoa, Ia tentu akan menyukai hal itu dan akan mendengarkan apa yang kita minta kepada-Nya.

Tempat yang tersembunyi adalah tempat yang dinantikan Allah untuk bertemu dengan kita. Mari datangi Dia dengan ketulusan dan iman di sana.-- Sidik Nugroho

"Doa kita dan anugerah Allah seperti dua ember di dalam sumur: ketika yang satu naik, yang lain turun."
~ Gerald Manley Hopkins ~

January 4, 2014

Pilihan yang Menentukan Jati-Diri Kita

Dalam sebuah percakapan antara Profesor Dumbledore dan Harry Potter di buku Harry Potter dan Kamar Rahasia, baik Sang Profesor maupun Harry menyadari kalau Harry Potter adalah anak dengan bakat sihir luar biasa, yang pantasnya masuk dalam asrama atau kelompok penyihir Slytherin. Di Slytherin, dulu ada seorang penyihir hebat yang kejam bernama Lord Voldemort.

Harry pantas masuk ke Slytherin karena ia bisa berbicara kepada ular, sebuah kesaktian yang jarang dimiliki para penyihir, tapi juga dimiliki Lord Voldemort. Bahkan, saat ia masuk pertama kali di sekolah sihir Hogwarts, sebuah topi sihir, Topi Seleksi namanya, menyatakan dia akan berhasil jadi penyihir hebat bila berada Slytherin. Namun, Harry memutuskan untuk berada di Gryffindor, sebuah kelompok sihir yang lebih banyak melahirkan penyihir baik.

Dumbledore terpana dengan keputusan Harry. Ia menyatakan kesetujuannya. "Bukan kemampuan kita yang bisa menunjukkan siapa diri kita, namun pilihan kita," kata Profesor itu. Seringkali, tanpa disadari, kita berupaya menonjolkan kemampuan lahiriah kita. Dengan kemampuan hebat itu kita akhirnya memegahkan diri dan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Saat kemampuan hebat bisa kita demonstrasikan, saat itu pula terbentang berbagai pilihan yang harus kita ambil.

Namun, bagi orang bijaksana, mendemonstrasikan kemampuan tidaklah seberapa penting, kecuali ia memang perlu melakukannya. Bakat yang besar tak serta-merta membuat seseorang menjadi bijaksana. Begitu banyak orang lahir dengan bakat hebat, tetapi kemudian menyia-nyiakannya begitu saja. Semakin bijaksana seseorang, ia perlu semakin pandai memilah-milah apa yang harus ia tunjukkan atau simpan. -- Sidik Nugroho

"Banyak orang yang kaya, pintar, dan tenar karena berasal dari keluarga yang hebat. Namun, banyak juga mereka yang mampu meraih ketiganya karena memilih demikian."

January 3, 2014

Uang Pertama dari Menulis

Rasanya semua penulis akan sepakat dengan saya, mereka tidak pernah melupakan kali pertama mendapatkan uang dari hasil menulis, atau cerita pertama yang mereka karang. Begitu juga dengan Stephen King, salah satu penulis kenamaan. Waktu kecil ia mengarang cerita tentang seekor kelinci bernama Mr. Rabbit Trick. Mr. Rabbit Trick memimpin empat binatang ajaib yang pergi berkeliling dengan sebuah mobil tua, memberi pertolongan kepada anak-anak kecil.

Stephen menyerahkan cerita itu kepada ibunya. Ibunya terkesan dengan apa yang ditulisnya, memberikan pujian setelah benar-benar menyimak ceritanya. Ibunya berkata akan membayar Stephen kecil 25 sen untuk sebuah cerita yang lain. Ia pun mengarang empat cerita lagi dengan tokoh yang sama, Mr. Rabbit Trick. "Empat cerita. Dua puluh lima sen sebuah. Itulah uang pertama yang kuhasilkan dari bisnis ini," demikian tulisnya dalam buku memoarnya yang tersohor On Writing.

Sebuah pujian kecil yang membahagiakan hati, kerelaan untuk mendengar, dan menyimak apa yang dihasilkan oleh anak-anak kecil, kian tak mudah ditemui pada orang-orang dewasa di masa kini. Kita, orang dewasa, seringkali sibuk dengan berita baru atau gosip baru. Dunia anak-anak sama sekali tak menarik bagi kita.

Akhirnya, ini bukan soal anak yang mata duitan, atau ibu yang secara tidak langsung mengajarkan anaknya menjadi mata duitan. Ini justru keberuntungan Stephen kecil memiliki ibu yang menghargai jerih-payahnya. Di kemudian hari, Stephen terus menulis dan membuat cerita, menghasilkan karya-karya yang diakui dunia. -- Sidik Nugroho

"Langkah pertama mencapai keberhasilan adalah melakukan suatu perkerjaan kecil dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang benar, hingga keberhasilan dapat tercapai. Setelah itu, lakukanlah hal itu pada hal-hal yang lebih besar."
~ Anonim ~

January 2, 2014

Kembali kepada Pria Itu

Pria itu sedang menghadap para petugas penjara. Mereka menanyakan apakah hukumannya telah membuatnya sadar akan kejahatannya. Ia tidak segera menjawab "ya" atau "tidak". Ia malah berkata kurang lebih demikian: "Dulu aku hanyalah seorang anak muda yang tak punya banyak pertimbangan dan melakukan sebuah kesalahan besar. Andai aku dapat kembali kepada pria itu dan mengatakan agar dia tidak melakukannya. Namun aku tak bisa..."

Jawaban itu kemudian mendapatkan imbalan stempel bertuliskan "approved". Ya, pembebasan bersyaratnya disetujui!

Pria itu bernama Ellis "Red" Redding. Diperankan oleh aktor ternama Morgan Freeman, pria dalam film The Shawshank Redemption itu menyadarkan saya tentang pentingnya untuk menjadi bijaksana.

Red telah mendekam puluhan tahun di penjara. Penjara sebagai institusi yang menghadirkan suasana statis mampu menghasilkan perenungan yang dinyatakannya. Namun, walaupun tak terpenjara seperti Red, pernahkah Anda berandai-andai untuk kembali menjadi muda? Pernahkah Anda mengingat sebuah kesalahan yang teramat konyol dan terlampau memalukan, dan rasanya berharap itu tidak pernah terjadi?

Jika pernah, sadarilah anugerah Allah. Anugerah itu memampukan kita menyadari keadaan ini: kesalahan kita di masa lalu tak lantas membuat hidup kita jadi berantakan di masa kini. Dalam anugerah-Nya Ia memberi pengampunan kepada kita. Anugerah itu membebaskan. Anugerah Tuhan membuat kita percaya diri. -- Sidik Nugroho

"Tak ada perbuatan yang begitu baik untuk membuat Allah lebih mengasihi kita; tidak ada kesalahan yang begitu parah yang membuat Ia menutup pintu bagi kita."

January 1, 2014

Sekitar Dua Meter Persegi

Pakhom adalah seseorang yang gila harta. Ia menginginkan tanah yang luas dan ternak yang banyak. Ia suka mencari-cari daerah baru di mana ia bisa mendapatkan tanah yang luas. Suatu waktu ia menemukan sebuah tempat bernama Bashkir.

Ajaib, orang-orang Bashkir menyatakan bahwa Pakhom dapat memiliki tanah di sana semampu ia berkeliling dari pagi hingga sore. Bila ia mampu berlari bekeliling hingga 100 hektar, misalnya, dia akan mendapatkan tanah itu. Pakhom sangat gembira. Pada hari yang ditentukan, ia berkeliling cukup jauh sehingga tanah yang ia dapatkan luas sekali. Namun, sayang sekali, ia kelelahan dan akhirnya mati tepat pada saat ia mengakhiri kelilingannya.

Ini adalah sebuah ringkasan cerita Leo Tolstoy, salah satu pengarang Rusia yang terbesar. Kisah ini berjudul Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?. Setelah Pakhom mati, pelayannya menguburkan jasadnya. Untuk hal ini hanya diperlukan tanah seluas tiga elo saja. Mungkin, sekitar dua meter persegi.

Selama ini, apakah kerja keras di hidup kita hanya merupakan ambisi untuk mendapatkan berbagai kepemilikan yang lebih dan lebih banyak seperti Pakhom? Pernahkah kita berpikir bahwa budi baik, pengorbanan, kasih bagi sesama dan kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh berapa luas tanah dan kepemilikan lain yang kita miliki? Sama seperti Pakhom, kelak kita akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa-apa, hanya jasad dan sebidang tanah yang mungkin luasnya hanya sekitar dua meter persegi. -- Sidik Nugroho

"Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton."
~ Mark Twain ~