January 12, 2014

Dipelajari Berulang-ulang

Saya begitu kagum dengan kegigihan yang dimiliki seorang anak murid saya. Anak murid ini sering mendapatkan remedial (ulangan tambahan yang diberikan karena nilainya di bawah standar) dalam suatu pelajaran yang saya bina. Selama saya mengajar beberapa tahun, kebanyakan, anak-anak mendapat remedial bukan karena kemampuan akademis mereka yang terbatas, tapi kemauan belajar mereka yang payah.

Berbeda dengan anak ini. Kemampuan dia menyerap pelajaran di bawah standar. Dia bahkan sering mendapatkan remedial bukan hanya di mata pelajaran saya. Saya selalu memintanya untuk belajar -- lagi dan lagi. Ia taat, sampai suatu ketika ulangan diadakan, dan ia mendapatkan nilai di atas standar. Itulah kali pertama ia tidak remedial. Saya tertegun melihat matanya yang bersinar-sinar saat memandang nilai yang diperolehnya.

Dalam memotivasi siswa seperti ini, saya selalu mengingatkan pepatah Latin yang pernah saya dengar dari bapak saya: Gutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo. (Tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tetapi karena menetes terus-menerus.)

Begitu banyak orang yang menyerah sebelum benar-benar menemukan hasil yang nyata dari pembelajaran dan proses pencariannya -- orang-orang yang enggan menelusuri lebih jauh dan mencoba lagi sesuatu yang sebenarnya bisa mendatangkan perbedaan besar dalam hidupnya. Kebiasaan kita untuk mengulang-ulang apa yang kita pelajari pada akhirnya akan membuat kita mahir dalam suatu bidang. Dan ini juga yang memungkinkan kita mengalami berbagai terobosan dalam kehidupan ini. -- Sidik Nugroho 

"Tuhan memberikan kepada setiap burung makanannya, tetapi Tuhan tidak memberikannya ke dalam sarang."
~ Josiah Gilbert Holland ~

January 11, 2014

Cincin yang Dibuang ke Laut

Seorang ibu berkisah kepada saya sebuah kisah cinta yang muram dan pilu. Seorang wanita, sebutlah namanya In, suatu ketika jatuh hati dengan seorang pelaut, sebutlah namanya Sam. Beberapa waktu berselang, cinta In ditanggapi Sam.

Janji terucap dari bibir Sam bahwa suatu saat ia akan kembali, hidup bersama dengan In. Mungkin, seperti sebuah lagu yang digubah Yovie Widianto: "Walau ke ujung dunia, pasti ku kan menunggu. Meski ke tujuh samudera, pasti ku kan menanti." In menanti Sam. Dan sebagai bukti cinta, Sam memberikan sebuah cincin kepada In.

In mengelus-elus cincin itu setiap kali mengingat Sam. Namun sayang, di suatu hari ketika kapal Sam berlabuh di sebuah dermaga, In yang kangen padanya amat kaget ketika melihat Sam di kamarnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tanpa banyak berkata-kata, In keluar dari kapal, melepas cincinnya, dan membuangnya ke laut. Cinta In sirna, seperti cincin yang lunglai dan tenggelam di dasar laut. Apa yang terjadi dalam kehidupan In selanjutnya? Ia menjadi wanita penghibur di hotel-hotel besar, di beberapa kota di Kalimantan Barat.

Dari kisah nyata ini, dua pelajaran dapat kita petik. Pertama, dari Sam, janji manusia kadangkala tak selalu ditepati. Karenanya, jangan terlalu banyak berharap, selain jangan mudah berjanji. Kedua, dari In, kesedihan akibat dikhianati oleh seseorang tak sepantasnya membuat hidup kita berantakan -- menjadi tanpa harga. Selama kita masih bernapas, kita harus belajar tabah, karena orang dan keadaan selalu punya peluang untuk memahitkan hati kita. -- Sidik Nugroho

"Ketidakhadiran ibarat angin bagi cinta. Ia mematikan cinta yang kecil, tetapi mengobarkan cinta yang besar."
 ~ Francois de la Rochefoucauld ~

January 10, 2014

Tak Selalu Menjadi Nomor Satu

Sebuah buku yang memikat, yang mengajarkan tentang makna hidup, saya baca baru-baru ini. Judulnya Selasa Bersama Morrie. Mitch Albom, pengarang kisah nyata ini mengisahkan pertemuan-pertemuannya di beberapa hari Selasa dengan Morrie Scwartz, mantan dosennya selama kuliah sebelum ia meninggal akibat Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu kisah yang mengesankan adalah ketika ia menyatakan bahwa tak ada salahnya jikalau kita menjadi nomor dua.

Kita sering menyatakan diri sebagai lebih dari pemenang. Kita biasa berpikir kalau kita ditentukan menjadi nomor satu. Kita seolah-olah mengharamkan kekalahan. Kita dimotivasi untuk menjadi yang terbaik, terpintar, teratas, tertinggi, dan sederet kata berawalan ter yang hebat-hebat lainnya. Anggapan ini ada salahnya. Ketika kita tak mencapai semua itu, bagaimana sikap hati kita?

Di kancah dunia ini tak jarang kita kalah bertanding. Dunia ini kejam dan kerap tak adil memperlakukan siapa saja. Namun, itu tak semestinya membuat kita mengecilkan pengabdian kita. Oleh karena itu, walau kita kalah atau menang, Morrie berkata: "Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu untuk masyarakat sekitar dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai makna dan tujuan bagimu."

Saat kita terus memberikan yang terbaik, tapi dunia tak menjadikan kita nomor satu, tak apa-apa. Karena di dunia kita memang diciptakan untuk tak selalu menjadi nomor satu. -- Sidik Nugroho

"Ketika hasrat akan cinta melebihi kecintaan akan kekuasaan, maka dunia pun menemukan kedamaian."
~ Jimi Hendrix ~
           

January 9, 2014

Peti Mati yang Mahal

Beberapa waktu yang lalu saya menerima berita kematian seorang anak kecil yang telah saya doakan agar sembuh. Saya terkejut dan sedih. Ia baru berusia 6 tahun. Pengalaman ini bukan yang pertama kali. Sejak beberapa tahun lalu, belasan orang lain ikut saya doakan dan "antarkan" dengan petikan gitar karena saya sering pelayanan dengan pendeta yang menangani kematian di gereja kami. Dia berkhotbah dan memimpin pujian, saya yang bergitar.

Lain pula kisah yang terjadi pada sebuah keluarga kaya empat tahun lalu. Yang meninggal adalah pemimpin keluarga itu, sang ayah. Karena begitu kayanya, peti mati yang digunakan sangat bagus. Di salah satu sisinya terukir dengan indah Perjamuan Terakhir: Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama terakhir kali sebelum disalib.

Maut dapat menjemput kapan saja pada setiap orang. Itu bisa terjadi pada anak kecil, juga pada orang tua. Mungkin saja, hari ketika Anda membaca renungan ini adalah hari terakhir hidup Anda. Bukan untuk menakut-nakuti, namun demikianlah adanya. Setiap orang tak ada yang tahu dengan tepat kapan ia terakhir kali menghembuskan napas hidupnya.

Mungkin kita tak diantarkan dengan peti mati yang mahal bila kita dipanggil pulang, seperti yang tadi saya kisahkan. Namun, hidup kita dapat menjadi "mahal" dan sangat berharga karena telah dijalani dengan cinta, pengabdian dan bakti bagi-Nya. Saat itu kita akan meninggalkan segala yang fana di dunia dengan tenang dan penuh kepercayaan bahwa kita akan disambut dengan gegap-gempita malaikat surga. Kita begitu berharga saat itu... sangat percaya diri. -- Sidik Nugroho

"Yang menentukan harga diri kita adalah Pencipta dan Pemilik kita."

January 8, 2014

Membesarkan Anak Pelacur

Jean Valjean adalah seorang pencuri. Suatu waktu ia meloloskan diri dari penjara. Karena tampangnya yang awut-awutan, tak ada seorang pun yang mau menerimanya di rumah mereka, kecuali seorang pendeta. Pendeta itu memberinya makan dan minum. Malamnya, ia malah mencuri beberapa peralatan perak milik pendeta. Pendeta itu dipukulnya karena memergokinya ketika mencuri. Ia lalu meninggalkan rumah pendeta itu dengan barang curiannya.

Pagi hari, polisi membawanya ke rumah pendeta itu. Ketika ditanyai, apakah Valjean mencuri peralatan perak pendeta itu, pendeta itu malah menyatakan bahwa ia memberikannya kepada Valjean. Valjean tak jadi dimasukkan penjara. Valjean terheran-heran dengan kebaikan pendeta itu.

Tahun-tahun berlalu. Valjean berubah, ia menjadi walikota. Suatu ketika ia bertemu dengan pelacur. Pelacur itu miskin dan punya seorang anak yang masih kecil bernama Cossette. Ketika pelacur itu meninggal, Jean Valjean membesarkan Cossette hingga dewasa.

Kisah karya Victor Hugo dalam Les Miserables ini amat terkenal. Di dalamnya terdapat pesan tentang kasih yang mengubahkan hati manusia. Hati orang itu tentulah Jean Valjean. Perjumpaannya dengan sang pendeta telah mengubah hidupnya selamanya: pencuri berubah menjadi walikota yang berbelas kasih dan dermawan.

Kasih yang demikian besar pasti akan mengubah hati seseorang. Kasih itu juga melambangkan kasih Tuhan, yang disebut Maha Pengasih. Saat ini, apakah kita pernah begitu mengasihi orang yang kurang beruntung? Saat merenungkan ketidaklayakan diri kita dan bagaimana Tuhan -- tetap mau ­­­­-- menerima kita, semoga hati kita dijamah oleh belas kasih dari-Nya.  -- Sidik Nugroho
 
 "Jika kita melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan, kita tidak akan pernah tahu keajaiban apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, atau dalam kehidupan orang lain."
~ Helen Keller ~

January 7, 2014

Tamu Setia nan Istimewa

Suatu ketika John Wesley diundang makan malam di rumah seorang terpandang di suatu kota. Ia datang. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam, ia meminta diri untuk pulang, walaupun acara belum usai.

"Mengapa?" tanya si pemilik acara.

"Karena esok, jam 4 pagi saya kedatangan tamu saya."

Ya, John Wesley, selain terkenal dengan julukan sebagai Pendeta Berkuda -- karena suka berkhotbah di atas kudanya kepada kerumunan orang yang ditemuinya -- juga terkenal dengan ketekunannya berdoa tiap jam 4 pagi. Tuhanlah yang menjadi tamunya.

John telah memperlakukan Tuhan sebagai tamu setia nan istimewa lewat keteraturan berdoanya. Kerapkali kita terjebak dalam pemahaman bahwa berdoa dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, layaknya sebuah minuman kaleng: diminum bila haus -- dicari bila diperlukan.

Kita perlu berhati-hati bila menganggap doa dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Itu dapat berarti dua hal: kita sudah begitu dekat dengan Tuhan sehingga kita merasa perlu menghubungi-Nya lagi kapan saja atau di mana saja. Itu bagus. Tapi, di sisi lain, berdoa kepada-Nya kapan saja dan di mana saja dapat pula merupakan kedok kemalasan kita yang tak mau berkomitmen untuk teratur berdoa. Akhirnya kita tak peduli, tak setia dan malas. Dalam sehari bila kita tak berdoa tak masalah, kan masih ada hari esok. Ibadah jadi tak berarti buat kita. Tuhan tak diperlakukan dengan spesial.

Kalau yang kedua yang terjadi selama ini dalam hidup kita, rasanya Tuhan tak lebih dari sebuah minuman kaleng. -- Sidik Nugroho

"Doa melahirkan percaya, percaya melahirkan cinta, cinta melahirkan pelayanan, pelayanan melahirkan perdamaian."
~ Bunda Teresa ~

January 6, 2014

Dua Jiwa yang Berbeda

Roger Ebert, kritikus film ternama itu, pernah menyatakan bahwa Hannibal Lecter adalah tokoh yang ditakuti, namun juga disayangi. Hannibal Lecter adalah tokoh dalam film Silence of the Lambs, Hannibal, Red Dragon, dan yang terakhir Hannibal Rising. Komentar Roger Ebert tak berlebihan. Hannibal Lecter memang sangat menakutkan karena otak manusia pun dimakannya, namun ia juga disayangi karena ia amat flamboyan dan romantis.

Hannibal Lecter menjadi sedemikian keji karena semasa kecil ia pernah menyaksikan beberapa tentara kelaparan semasa perang yang memakan adiknya, Mischa. Tentara-tentara itu sudah tak punya makanan lagi. Kebengisan mereka "menular" kepadanya akibat dendam.

Di dalam Hannibal Rising dikisahkan kalau ulah para tentara rakus nan bengis pada Mischa sering hadir dalam mimpi-mimpi Hannibal. Ia sangat menyayangi Mischa. Mimpi-mimpi itu, dipadu dengan kebencian, berbuntut pada pembalasan dendam yang tak kalah keji pada tentara-tentara itu.

Dendam itu manusiawi. Kita bahkan mungkin turut bersorak-sorak ketika seorang tokoh protagonis di film berhasil membalas dendam. Namun, sadarkah kita bahwa menyimpan dendam akan membuat kita tak waras? Seperti Hannibal, ia dapat tampil romantis, namun sekaligus kanibal.

Apa pun kesalahan orang lain di masa lalu, ampunilah. Pembalasan adalah hak Tuhan. Jikalau kita tidak mau mengampuni, maka -- walaupun tak sekeji Hannibal -- kita akan menjadi pribadi yang mempunyai dua jiwa yang berbeda. -- Sidik Nugroho

"Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Anda tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan sampai dapat melupakan kegagalan dan rasa sakit hati."
~ Anonim ~

January 5, 2014

Tempat yang Tersembunyi

Seringkali kita melakukan suatu kebaikan agar disaksikan banyak orang di sekitar kita. Orang memuji kita karena kita dermawan atau baik hati. Namun, suatu ketika, Yesus berpesan agar ada tiga hal yang sebaiknya dilakukan di "tempat yang tersembunyi" saat berkhotbah di bukit: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Kita akan merenungi salah satunya: berdoa.

Tentu ada alasannya mengapa kita diminta untuk berdoa secara "rahasia".  Pertama, agar kehidupan doa kita berbeda dengan orang-orang munafik yang suka berdoa di tempat-tempat ramai supaya dilihat orang. Memang, ada saat-saat ketika kita berdoa secara berjemaah -- bersama-sama dengan saudara seiman. Namun, pertanyaannya: apakah kita hanya akan berdoa bila ada acara doa bersama?  Atau kita melakukan ibadah doa hanya untuk menyukakan manusia, misalnya pemimpin agama kita? Mari kita introspeksi diri kita dan mengambil komitmen baru di dalam kehidupan doa kita bahwa kita tidak berdoa untuk tujuan yang tidak benar.

Yang kedua: integritas. Tempat yang tersembunyi adalah sebuah tempat yang disukai oleh semua orang untuk bebas berbuat apa saja: dosa atau kebenaran. Jikalau Tuhan menemukan kita melakukan hal yang mulia di sana, yaitu berdoa, Ia tentu akan menyukai hal itu dan akan mendengarkan apa yang kita minta kepada-Nya.

Tempat yang tersembunyi adalah tempat yang dinantikan Allah untuk bertemu dengan kita. Mari datangi Dia dengan ketulusan dan iman di sana.-- Sidik Nugroho

"Doa kita dan anugerah Allah seperti dua ember di dalam sumur: ketika yang satu naik, yang lain turun."
~ Gerald Manley Hopkins ~

January 4, 2014

Pilihan yang Menentukan Jati-Diri Kita

Dalam sebuah percakapan antara Profesor Dumbledore dan Harry Potter di buku Harry Potter dan Kamar Rahasia, baik Sang Profesor maupun Harry menyadari kalau Harry Potter adalah anak dengan bakat sihir luar biasa, yang pantasnya masuk dalam asrama atau kelompok penyihir Slytherin. Di Slytherin, dulu ada seorang penyihir hebat yang kejam bernama Lord Voldemort.

Harry pantas masuk ke Slytherin karena ia bisa berbicara kepada ular, sebuah kesaktian yang jarang dimiliki para penyihir, tapi juga dimiliki Lord Voldemort. Bahkan, saat ia masuk pertama kali di sekolah sihir Hogwarts, sebuah topi sihir, Topi Seleksi namanya, menyatakan dia akan berhasil jadi penyihir hebat bila berada Slytherin. Namun, Harry memutuskan untuk berada di Gryffindor, sebuah kelompok sihir yang lebih banyak melahirkan penyihir baik.

Dumbledore terpana dengan keputusan Harry. Ia menyatakan kesetujuannya. "Bukan kemampuan kita yang bisa menunjukkan siapa diri kita, namun pilihan kita," kata Profesor itu. Seringkali, tanpa disadari, kita berupaya menonjolkan kemampuan lahiriah kita. Dengan kemampuan hebat itu kita akhirnya memegahkan diri dan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Saat kemampuan hebat bisa kita demonstrasikan, saat itu pula terbentang berbagai pilihan yang harus kita ambil.

Namun, bagi orang bijaksana, mendemonstrasikan kemampuan tidaklah seberapa penting, kecuali ia memang perlu melakukannya. Bakat yang besar tak serta-merta membuat seseorang menjadi bijaksana. Begitu banyak orang lahir dengan bakat hebat, tetapi kemudian menyia-nyiakannya begitu saja. Semakin bijaksana seseorang, ia perlu semakin pandai memilah-milah apa yang harus ia tunjukkan atau simpan. -- Sidik Nugroho

"Banyak orang yang kaya, pintar, dan tenar karena berasal dari keluarga yang hebat. Namun, banyak juga mereka yang mampu meraih ketiganya karena memilih demikian."