January 17, 2014

Pentingnya Keteladanan

Ketika membaca buku Roald Dahl yang berjudul Boy: Kisah Masa Kecil yang berisi tentang berbagai peristiwa saat ia masih kecil dan remaja, saya terenyak pada sebuah bab. Kepala sekolah Roald Dahl diangkat menjadi uskup tertinggi di Inggris, padahal dulunya dia sangat suka memukuli anak-anak. Di bab yang sama, Roald Dahl menulis: "Saat itu… aku duduk… mendengarkannya berkhotbah tentang Gembala Tuhan, dan tentang Kasih dan Pengampunan dan sebagainya, lalu benak mudaku menjadi amat bingung."

Begitu membekas ingatan Roald Dahl akan guru, senior, dan kepala sekolah yang berlaku kejam kepadanya. Hal ini membuat ia meragukan Tuhan dan agama. Saat ia dewasa dan menulis, di beberapa tulisannya dapat kita temui tokoh guru-guru yang kejam, keras, kaku, dan terlampau disiplin.

Pada masa kini pun beberapa sekolah menjadi biang stres bagi beberapa anak dan remaja. Sanksi, hukuman, dan peraturan yang diberlakukan di sekolah membuat mereka tersiksa. Dalam hal ini, Paulus berbeda. Dalam suratnya kepada Timotius, muridnya, ia ingin agar orang mencontoh cara hidupnya sebagai pengikut Kristus: "Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1 Timotius 1:16).

Manusia membutuhkan keteladanan, kasih, dan perhatian. Itulah yang tidak didapatkan oleh Roald Dahl kecil. Murid-murid lebih mudah melupakan apa yang gurunya ajarkan di dalam kelas -- materi, teori, atau konsep. Cambukan, amukan, atau hukuman akan membekas lebih lama. Begitu pula pujian, hadiah kecil, dan saat-saat kebersamaan yang menyenangkan. Nah, sebagai orang dewasa, Anda lebih sering menuding atau merangkul? Atau, Anda lebih sering memberi hadiah atau hukuman? -- Sidik Nugroho

"Mengajar memerlukan pengetahuan. Mendidik memerlukan sikap terpuji. Tiap anak perlu keduanya."

January 16, 2014

Pernikahan: Kunci Kebahagiaan?

Tiap kali bertemu dengan saya, beberapa teman -- terutama teman-teman lama -- selalu menanyakan, "Kapan menikah? Sudah punya calon atau belum?" Saya tidak bisa menyalahkan pertanyaan ini. Hal ini sudah menjadi anggapan pada umumnya di masyarakat: bila kita sudah bekerja, maka kita semestinya menikah. Anggapan itu bisa digeser bila seseorang memberikan jawaban bahwa ia seorang biarawan atau biarawati -- orang-orang akan segera memakluminya.

Begitulah, memiliki seorang istri atau suami, juga sebuah keluarga, memang kerap dijadikan tolok ukur kebahagiaan. Tidak salah. Namun, itu tidak selalu benar. Hal itu akan salah bila semua orang yang belum atau tidak menikah -- dan belum atau tidak berkeluarga -- dicap sebagai orang-orang yang tidak berbahagia. Padahal, orang-orang yang tidak menikah bisa melakukan sesuatu yang lebih besar bagi masyarakat daripada orang-orang yang sudah menikah -- walau ada juga orang yang tidak mau menikah karena enggan berkomitmen dan lebih suka kumpul kebo.

Alfred Nobel, Isaac Newton, Romo Mangunwijaya, Bunda Teresa, Paulus, bahkan Kristus, tidak menikah. Dan, walaupun tidak menikah, hidup mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi orang lain dan masyarakat. Adakah yang berani menyatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan kondisi membujang seumur hidup seperti itu? Malah, saya menduga, bila mereka menikah, mungkin pencapaian dan pengaruh mereka bagi dunia tidak sebesar yang sudah mereka wariskan hingga kini karena mereka akan lebih sibuk mengurusi rumah tangga.

Nah, bila Anda belum menikah, pertanyaannya: apakah Anda bahagia? -- Sidik Nugroho

"Menikah dan tidak menikah sama baiknya selama seseorang dapat hidup berbahagia dan bermanfaat bagi sesamanya."

January 15, 2014

Gelandangan yang Visioner

Republik Indonesia dibangun oleh bapak-bapak bangsa yang visioner. Salah satunya, yang tak begitu tersohor adalah Tan Malaka. Ia seorang penyendiri, suka menulis. Salah satu buah pikirnya yang terkenal, Madilog (Materialisme Dialektika Logika), ditulis di Rawajati, di sebuah gubuk bambu berukuran 15 meter persegi. Tan menulisnya dari pukul 6 pagi sampai 12 siang, dari tanggal 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Ia sering mencari rujukan di Museum Nasional yang ditempuh 4 jam kalau berjalan kaki.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, karya-karya Tan tentang Indonesia dipublikasikan dengan luas. Sebuah karyanya, Aksi Massa, menjadi karya yang menginspirasi Soekarno. Karya itu juga menginspirasi W.R. Supratman saat menulis lagu "Indonesia Raya". Hidup Tan mirip gelandangan. Ia sering diburu sehingga harus berpindah-pindah tempat dan sering menyamar.

Saat ini, zaman ketika reality show menjadi tayangan kesukaan banyak orang, ajang mencari bakat, mencari jodoh, hingga memasak -- semua ditayangkan. Rahasia kehidupan pribadi diumbar dengan cara-cara yang kadang kelewatan dalam tayangan gosip atau jejaring sosial. Ketika Musa menghadapi bangsa Israel yang payah, Ia naik ke atas gunung, menyendiri. Ia menghadap Allah, memohon hikmat-Nya untuk jutaan orang yang terhampar di padang gurun.

Dalam kehidupan yang ingar-bingar seperti sekarang ini, setiap tindakan kecil pun ingin diketahui oleh orang lain. Kesendirian -- benar-benar sendiri -- adalah hal yang makin asing saat ini. Orang-orang mungkin lupa, atau tidak tahu, tidak sedikit pencapaian hebat manusia yang diraih saat ia sedang menyendiri. -- Sidik Nugroho

"Kalau Anda menganggur jangan menyendiri, kalau Anda menyendiri jangan menganggur." 
~ Samuel Johnson ~

January 14, 2014

Rezeki Waktu Subuh

Suatu ketika saya naik becak dari stasiun Blimbing, Malang, ke rumah saya. Jaraknya sekitar 3 sampai 4 kilometer. Tukang becak agak santai mengayuh becak, dan kami pun berbincang-bincang tentang diri kami masing-masing. Ia berasal dari Pasuruan, sekarang dia tinggal di rumah kos bersama istri dan anaknya yang masih kecil di kecamatan Pakis, dekat taman rekreasi Wendit di Malang. Ia bercerita kalau dulu bekerja di pabrik susu sebagai karyawan outsourcing. Setelah kontrak pekerjaannya tak diperpanjang, ia mencoba melamar ke beberapa pabrik lain. Namun, tak ada yang mau mempekerjakannya.

"Rezeki saya yang paling utama ya dari pasar Blimbing ini, Mas," katanya. "Tiap subuh selalu ada yang naik becak untuk berjualan di pasar. Kalau sudah siang, atau malam, agak sepi."

Pada umumnya manusia bekerja siang hari, saat hari masih terang. Namun, bagi beberapa orang, jam-jam kehidupan berlaku terbalik: mereka bekerja waktu malam dan beristirahat waktu siang. Seperti tukang becak ini, dan banyak orang lainnya di pasar-pasar tradisional. Semangat hidup dan kerajinan mereka bukan hal yang mudah untuk ditiru. Apalagi di Malang, hawa subuh lumayan dingin. Lebih banyak orang suka berlindung di balik selimut bila masih subuh dan melanjutkan mimpi yang indah.

Mungkin, selama ini Anda mendapatkan uang dengan cara yang mudah. Tak perlu ngoyo, kehidupan Anda baik-baik saja. Tapi, bagi beberapa orang yang lainnya, rezeki harus didapatkan dengan memeras keringat dan membanting tulang. Nah, sudahkah kita bersyukur untuk setiap rezeki dan kebaikan yang ada selama ini? -- Sidik Nugroho 

"Ada orang yang bekerja keras tapi bergaya hidup sederhana, ada orang yang tak suka bekerja tapi bergaya hidup mewah."

January 13, 2014

Yang Diharapkan Ketika Kembali

Hampir tiap akhir pekan saya pulang ke Malang sejak empat tahun lalu. Saya bekerja di Sidoarjo, sementara kedua orang tua saya tinggal di Malang. Ada saat-saat yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan ketika kembali bertemu dengan keluarga. Saat-saat ketika saya dan orang tua saling bercerita di meja makan tentang kehidupan kami masing-masing.

Juga, saat-saat ketika seorang keponakan saya yang masih balita dulu selalu menyambut saya ketika mendengar bunyi pagar rumah dibuka. Dia akan berlari keluar, menyerukan nama saya, lalu minta digendong. Dia senang kalau saya ajak melihati kambing, domba, dan beberapa ikan di kolam yang ada di dekat sawah di sekitar perumahan kami.

"Setiap orang yang baru tiba dari bepergian jauh selalu mengharapkan seseorang menunggunya di stasiun atau bandara. Setiap orang ingin menceritakan kisahnya dan membagi kepedihan hati atau sukacitanya dengan keluarganya, yang menunggunya untuk pulang," kata seorang yang bijaksana.

Hal itu memang benar. Itulah yang membuktikan bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia mengharapkan adanya orang lain ketika ia kembali dari suatu tempat. Ketika kita menutup diri untuk diterima orang lain, sesungguhnya tindakan ini akan mengecilkan arti diri kita yang sesungguhnya. Jurang yang dalam berupa prinsip atau tujuan hidup memang dapat menjadi pemisah sebuah relasi. Namun, kita tetap dapat dikasihi, meskipun kadang orang yang mengasihi kita tak selalu sejalan dan sepikiran dengan kita. -- Sidik Nugroho

"Untuk mendapatkan kesenangan sepenuhnya, Anda harus memiliki seseorang untuk berbagi dengannya." 
 ~ Mark Twain ~

January 12, 2014

Dipelajari Berulang-ulang

Saya begitu kagum dengan kegigihan yang dimiliki seorang anak murid saya. Anak murid ini sering mendapatkan remedial (ulangan tambahan yang diberikan karena nilainya di bawah standar) dalam suatu pelajaran yang saya bina. Selama saya mengajar beberapa tahun, kebanyakan, anak-anak mendapat remedial bukan karena kemampuan akademis mereka yang terbatas, tapi kemauan belajar mereka yang payah.

Berbeda dengan anak ini. Kemampuan dia menyerap pelajaran di bawah standar. Dia bahkan sering mendapatkan remedial bukan hanya di mata pelajaran saya. Saya selalu memintanya untuk belajar -- lagi dan lagi. Ia taat, sampai suatu ketika ulangan diadakan, dan ia mendapatkan nilai di atas standar. Itulah kali pertama ia tidak remedial. Saya tertegun melihat matanya yang bersinar-sinar saat memandang nilai yang diperolehnya.

Dalam memotivasi siswa seperti ini, saya selalu mengingatkan pepatah Latin yang pernah saya dengar dari bapak saya: Gutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo. (Tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tetapi karena menetes terus-menerus.)

Begitu banyak orang yang menyerah sebelum benar-benar menemukan hasil yang nyata dari pembelajaran dan proses pencariannya -- orang-orang yang enggan menelusuri lebih jauh dan mencoba lagi sesuatu yang sebenarnya bisa mendatangkan perbedaan besar dalam hidupnya. Kebiasaan kita untuk mengulang-ulang apa yang kita pelajari pada akhirnya akan membuat kita mahir dalam suatu bidang. Dan ini juga yang memungkinkan kita mengalami berbagai terobosan dalam kehidupan ini. -- Sidik Nugroho 

"Tuhan memberikan kepada setiap burung makanannya, tetapi Tuhan tidak memberikannya ke dalam sarang."
~ Josiah Gilbert Holland ~

January 11, 2014

Cincin yang Dibuang ke Laut

Seorang ibu berkisah kepada saya sebuah kisah cinta yang muram dan pilu. Seorang wanita, sebutlah namanya In, suatu ketika jatuh hati dengan seorang pelaut, sebutlah namanya Sam. Beberapa waktu berselang, cinta In ditanggapi Sam.

Janji terucap dari bibir Sam bahwa suatu saat ia akan kembali, hidup bersama dengan In. Mungkin, seperti sebuah lagu yang digubah Yovie Widianto: "Walau ke ujung dunia, pasti ku kan menunggu. Meski ke tujuh samudera, pasti ku kan menanti." In menanti Sam. Dan sebagai bukti cinta, Sam memberikan sebuah cincin kepada In.

In mengelus-elus cincin itu setiap kali mengingat Sam. Namun sayang, di suatu hari ketika kapal Sam berlabuh di sebuah dermaga, In yang kangen padanya amat kaget ketika melihat Sam di kamarnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tanpa banyak berkata-kata, In keluar dari kapal, melepas cincinnya, dan membuangnya ke laut. Cinta In sirna, seperti cincin yang lunglai dan tenggelam di dasar laut. Apa yang terjadi dalam kehidupan In selanjutnya? Ia menjadi wanita penghibur di hotel-hotel besar, di beberapa kota di Kalimantan Barat.

Dari kisah nyata ini, dua pelajaran dapat kita petik. Pertama, dari Sam, janji manusia kadangkala tak selalu ditepati. Karenanya, jangan terlalu banyak berharap, selain jangan mudah berjanji. Kedua, dari In, kesedihan akibat dikhianati oleh seseorang tak sepantasnya membuat hidup kita berantakan -- menjadi tanpa harga. Selama kita masih bernapas, kita harus belajar tabah, karena orang dan keadaan selalu punya peluang untuk memahitkan hati kita. -- Sidik Nugroho

"Ketidakhadiran ibarat angin bagi cinta. Ia mematikan cinta yang kecil, tetapi mengobarkan cinta yang besar."
 ~ Francois de la Rochefoucauld ~

January 10, 2014

Tak Selalu Menjadi Nomor Satu

Sebuah buku yang memikat, yang mengajarkan tentang makna hidup, saya baca baru-baru ini. Judulnya Selasa Bersama Morrie. Mitch Albom, pengarang kisah nyata ini mengisahkan pertemuan-pertemuannya di beberapa hari Selasa dengan Morrie Scwartz, mantan dosennya selama kuliah sebelum ia meninggal akibat Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu kisah yang mengesankan adalah ketika ia menyatakan bahwa tak ada salahnya jikalau kita menjadi nomor dua.

Kita sering menyatakan diri sebagai lebih dari pemenang. Kita biasa berpikir kalau kita ditentukan menjadi nomor satu. Kita seolah-olah mengharamkan kekalahan. Kita dimotivasi untuk menjadi yang terbaik, terpintar, teratas, tertinggi, dan sederet kata berawalan ter yang hebat-hebat lainnya. Anggapan ini ada salahnya. Ketika kita tak mencapai semua itu, bagaimana sikap hati kita?

Di kancah dunia ini tak jarang kita kalah bertanding. Dunia ini kejam dan kerap tak adil memperlakukan siapa saja. Namun, itu tak semestinya membuat kita mengecilkan pengabdian kita. Oleh karena itu, walau kita kalah atau menang, Morrie berkata: "Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu untuk masyarakat sekitar dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai makna dan tujuan bagimu."

Saat kita terus memberikan yang terbaik, tapi dunia tak menjadikan kita nomor satu, tak apa-apa. Karena di dunia kita memang diciptakan untuk tak selalu menjadi nomor satu. -- Sidik Nugroho

"Ketika hasrat akan cinta melebihi kecintaan akan kekuasaan, maka dunia pun menemukan kedamaian."
~ Jimi Hendrix ~
           

January 9, 2014

Peti Mati yang Mahal

Beberapa waktu yang lalu saya menerima berita kematian seorang anak kecil yang telah saya doakan agar sembuh. Saya terkejut dan sedih. Ia baru berusia 6 tahun. Pengalaman ini bukan yang pertama kali. Sejak beberapa tahun lalu, belasan orang lain ikut saya doakan dan "antarkan" dengan petikan gitar karena saya sering pelayanan dengan pendeta yang menangani kematian di gereja kami. Dia berkhotbah dan memimpin pujian, saya yang bergitar.

Lain pula kisah yang terjadi pada sebuah keluarga kaya empat tahun lalu. Yang meninggal adalah pemimpin keluarga itu, sang ayah. Karena begitu kayanya, peti mati yang digunakan sangat bagus. Di salah satu sisinya terukir dengan indah Perjamuan Terakhir: Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama terakhir kali sebelum disalib.

Maut dapat menjemput kapan saja pada setiap orang. Itu bisa terjadi pada anak kecil, juga pada orang tua. Mungkin saja, hari ketika Anda membaca renungan ini adalah hari terakhir hidup Anda. Bukan untuk menakut-nakuti, namun demikianlah adanya. Setiap orang tak ada yang tahu dengan tepat kapan ia terakhir kali menghembuskan napas hidupnya.

Mungkin kita tak diantarkan dengan peti mati yang mahal bila kita dipanggil pulang, seperti yang tadi saya kisahkan. Namun, hidup kita dapat menjadi "mahal" dan sangat berharga karena telah dijalani dengan cinta, pengabdian dan bakti bagi-Nya. Saat itu kita akan meninggalkan segala yang fana di dunia dengan tenang dan penuh kepercayaan bahwa kita akan disambut dengan gegap-gempita malaikat surga. Kita begitu berharga saat itu... sangat percaya diri. -- Sidik Nugroho

"Yang menentukan harga diri kita adalah Pencipta dan Pemilik kita."

January 8, 2014

Membesarkan Anak Pelacur

Jean Valjean adalah seorang pencuri. Suatu waktu ia meloloskan diri dari penjara. Karena tampangnya yang awut-awutan, tak ada seorang pun yang mau menerimanya di rumah mereka, kecuali seorang pendeta. Pendeta itu memberinya makan dan minum. Malamnya, ia malah mencuri beberapa peralatan perak milik pendeta. Pendeta itu dipukulnya karena memergokinya ketika mencuri. Ia lalu meninggalkan rumah pendeta itu dengan barang curiannya.

Pagi hari, polisi membawanya ke rumah pendeta itu. Ketika ditanyai, apakah Valjean mencuri peralatan perak pendeta itu, pendeta itu malah menyatakan bahwa ia memberikannya kepada Valjean. Valjean tak jadi dimasukkan penjara. Valjean terheran-heran dengan kebaikan pendeta itu.

Tahun-tahun berlalu. Valjean berubah, ia menjadi walikota. Suatu ketika ia bertemu dengan pelacur. Pelacur itu miskin dan punya seorang anak yang masih kecil bernama Cossette. Ketika pelacur itu meninggal, Jean Valjean membesarkan Cossette hingga dewasa.

Kisah karya Victor Hugo dalam Les Miserables ini amat terkenal. Di dalamnya terdapat pesan tentang kasih yang mengubahkan hati manusia. Hati orang itu tentulah Jean Valjean. Perjumpaannya dengan sang pendeta telah mengubah hidupnya selamanya: pencuri berubah menjadi walikota yang berbelas kasih dan dermawan.

Kasih yang demikian besar pasti akan mengubah hati seseorang. Kasih itu juga melambangkan kasih Tuhan, yang disebut Maha Pengasih. Saat ini, apakah kita pernah begitu mengasihi orang yang kurang beruntung? Saat merenungkan ketidaklayakan diri kita dan bagaimana Tuhan -- tetap mau ­­­­-- menerima kita, semoga hati kita dijamah oleh belas kasih dari-Nya.  -- Sidik Nugroho
 
 "Jika kita melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan, kita tidak akan pernah tahu keajaiban apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, atau dalam kehidupan orang lain."
~ Helen Keller ~